RESEARCH

KOLOKIA: Platform Komunikasi Inklusif Bahasa Isyarat Lokal Bali Berbasis Multibahasa untuk Mendukung Pariwisata

August 2026

DOWNLOAD PDF

Latar Belakang

Tranformasi digital di berbagai sektor, seperti Pendidikan, komunikasi, hingga pelestarian budaya dan Bahasa daerah, tidak lepas dari pesatnya perkembangan Teknologi Informasi. Sarana Aplikasi Seluler hadir dengan menawarkan fleksibilitas akses tanpa batas ruang dan waktu, sekaligus memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif bagi pengguna. Dalam upaya meningkatkan kemudahan serta minat belajar masyarakat terhadap bahasa yang tidak umum digunakan, penggunaan teknologi menjadi solusi yang sangat efektif (Adati et al., 2023).

Komunitas tunarungu sangat mengandalkan bahasa isyarat sebagai media komunikasi utama, namun penerapannya di lapangan masih terkendala oleh banyaknya variasi bentuk isyarat antar wilayah serta keterbatasan penguasaan kosakata khusus yang kerap memicu kesalahpahaman informasi (Sari et al., 2024). Tantangan ini memunculkan kebutuhan mendesak terhadap pengembangan media digital interaktif, yang berfungsi untuk mendokumentasikan serta menyebarluaskan kosakata bahasa isyarat secara sistematis agar lebih mudah dipelajari (Zikky & Akbar, 2019). Di sisi lain, tren penelitian terkait pengembangan aplikasi kamus digital sejauh ini belum banyak menyentuh kerumitan visual bahasa isyarat, melainkan masih terpusat pada upaya pelestarian bahasa lokal melalui format teks dwibahasa dengan fitur pencarian yang masih tergolong sederhana (Nurdin et al., 2025).

Berbagai kajian literatur mengonfirmasi bahwa penggunaan aplikasi kamus digital sangat membantu pengguna dalam memfasilitasi proses belajar bahasa secara mandiri sekaligus meningkatkan keterlibatan mereka secara aktif (Wibowo & Lestari, 2020). Walaupun begitu, potensi penuh dari teknologi ini rupanya belum sepenuhnya dimanfaatkan. Mayoritas aplikasi yang beredar saat ini masih absen dalam mengadopsi pendekatan multimodal. Fitur-fitur krusial seperti visualisasi bahasa isyarat, dukungan multibahasa, hingga penyesuaian dengan konteks budaya lokal justru masih sangat jarang ditemukan (Pratama & Hidayat, 2024). 

Provinsi Bali tidak hanya memikat dunia melalui pesona pariwisatanya, tetapi juga kekayaan linguistiknya, salah satunya tercermin dari eksistensi komunitas Tunarungu yang menggunakan bahasa isyarat lokal (seperti Kata Kolok) sebagai fondasi identitas sosial mereka (Marsaja, 2008). Mengingat posisi Bali sebagai episentrum pariwisata global, ketersediaan ekosistem komunikasi yang inklusif menjadi keharusan mutlak guna memfasilitasi interaksi antara penduduk lokal, wisatawan domestik, dan mancanegara. Sayangnya, minimnya sarana pembelajaran bahasa isyarat lokal yang terintegrasi dengan berbagai bahasa asing seperti bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang kerap menjadi hambatan utama dalam mewujudkan komunikasi lintas budaya yang optimal (Arsa et al., 2025). Merespons urgensi tersebut, gagasan untuk merancang platform inklusif seperti KOLOKIA menjadi sangat relevan. Aplikasi kamus digital ini hadir tidak sekadar sebagai medium 2 dokumentasi, melainkan sebagai ekosistem pembelajaran interaktif multibahasa yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan penggunanya. Kebaruan (novelty) dari pengembangan KOLOKIA terletak pada integrasi bahasa isyarat lokal Bali dengan sistem multibahasa internasional dalam satu platform komunikasi inklusif berbasis mobile KOLOKIA menghadirkan pendekatan visual gesture-based dictionary yang menggabungkan representasi gerakan isyarat, teks, dan terjemahan dalam tiga bahasa sekaligus yaitu Indonesia, Inggris, dan Jepang. Pengembangan aplikasi KOLOKIA diharapkan mampu menjadi solusi inovatif dalam mendukung pembelajaran bahasa isyarat lokal Bali, meningkatkan akses komunikasi inklusif, serta memperkuat pelestarian budaya di era digital. Inovasi ini mendukung tema PKM 2026-(7) Penguatan kesetaraan gender dan perlindungan hak-hak perempuan, anak, dan penyandang disabilitas.